Berita di televisi masih saja menampilkan pertikaian sektarian, hampir setiap hari di berbagai belahan dunia. Hal yang sama terjadi juga di Indonesia, prihatin. Muslim-Non Muslim, pribumi-non pribumi, syiah-sunni dan semua embel2 yang manusia ciptakan sendiri, selalu jadi masalah di negeri ini. Sedikit sekali manusia yang secara legowo bisa menerima bahwasanya perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan yang datangnya dari Tuhan sebagai Dzat yang memiliki hak prerogatif dalam penciptaan.

Kenapa manusia modern sekarang justru seolah anti terhadap perbedaan ya ? Perbedaan seolah2 seperti sesuatu yang mengerikan. Menjadi berbeda maka bersiaplah mendapatkan hujatan dan diberi stigma. Apalagi jika sudah menyangkut persoalan keyakinan, satu agama saja bisa berantem.

Jangan dulu libatkan Tuhan, karena Dia sudah menyerahkan urusan dunia ini kepada kita manusia. Bukankah kita diturunkan ke bumi sebagai khalifah yang ditugaskan untuk memelihara bumi dan seisinya ? Untuk itulah kita dibekali pikiran dan nurani. Itulah maha bijaksananya Tuhan.

Bahkan, karena kebijaksanaanNya pula sejak masih berada didalam kandungan kita diberi pilihan tentang kesanggupan untuk hidup di dunia.

Jika sanggup maka akan terlahir dalam keadaan hidup, demikian pula sebaliknya. So, dari awal penciptaan saja kita sudah diberi pilihan dan tidak ada paksaan sama sekali. Asik ya, dibuatNya kita dari segumpal tanah, ditiupkan ruh terus disuruh memilih dan tidak ada paksaan. Padahal apa susahnya sih bagi Tuhan untuk tidak melakukan semua proses itu?

Ngapain coba capek2 menciptakan jasad dan meniupkan ruh kalau akhirnya toh disuruh memilih ? Dan ketika si makhluk tidak menyanggupi konsekwensi hidup di dunia, yang akan terjadi jasadnya saja yang diturunkan tapi ruhnya diambil. Tuhan Maha Asik, kalau meminjam istilah Sudjiwo Tedjo. Kelen pernah berpikir sampai sejauh itu nggak ? Ini keren bro, tapi terserah sih kalau masih menabukan hal seperti ini.

Bukan apa2, soalnya banyak sebagian orang konservatif yang menabukan pertanyaan seputar ke-Tuhanan, di cap tidak beriman lah, Syiah lah, JIL lah, dsb. Konteks pertanyaan ini tidak ada kaitannya dengan agama tertentu, apalagi dengan keimanan yang menjadi hak Tuhan untuk menilai. Kecuali bagi orang yang merasa bahwa hanya agama dialah yang berhak memiliki Tuhan, emang ada ?? Adaaa..banyak..berapa lapis? Ratusannn.

Aku pakai analogi penciptaan diatas tadi dilihat dari sudut pandang agamaku, karena aku nggak tau perspektif agama lain dalam memandang sebuah penciptaan. Tapi aku mencoba mengajak untuk memahami secara universal saja, kecuali atheist, pasti semua berTuhan. Bahkan atheist pun ber-theist pada ke-atheist-an nya kan ? Silakan saja kalau memang ada yang memiliki perspektif yang berbeda tentang penciptaan manusia.

Kembali lagi, dari sejak diciptakan saja sudah diajukan pada pilihan yang beda. Bagi Tuhan simple aja kok, take it or leave it. Dan apapun pilihannya it’s ok kok. Apa lantas Tuhan mencoba mempengaruhi pilihan kita ? Aku rasa sih tidak. Lah ngapain juga dipengaruhi lha wong kita makhluk, sementara Dia khaliq, manfaat apa yang bisa diambil Tuhan dari kita sehingga mencoba mempengaruhi ? Nggak ada !! Makanya jangan suka sok-sokan membela Tuhan deh, diketawain, sumpah. Coba deh kita renungkan hal itu bersama, bener nggak sih ?

Ni ngapain sih ngomong kek gini ? Berat…
Gini loh, setuju ya kalau kita akhirnya terlahir dan hidup sampai sekarang itu memang berdasarkan pilihan kita setelah Tuhan menunjukkan semua konsekwensinya ? Kalau ini bukan pilihan kita berarti kita tidak akan hidup sampai sekarang. Toss duluuuu…

Sekarang marilah kita belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang sudah kita ambil di hadapan Tuhan. Sederhana aja sih caranya, cukup dengan menghargai semua yang diciptakanNya. Mudah ?? Enggak !! Tapi kita harus berusaha dengan menggunakan akal dan nurani yang sdh ditanamkan sebagai bekal untuk hidup di dunia ini. Menghargai dulu deh, mengimani belakangan.

Yang nampak aja kadang kita nyepelein, apalagi yang gak nampak. Iman sendiri kan sesuatu yang absurd, gak nampak, boong aja kalau kita mengatakan orang beriman tapi yang nyata2 tampak didepan mata kita cuekin padahal butuh kita sentuh. Apakah iman bisa ter refleksi dari cara orang berpakaian ? Gila aja !!

Ada sebuah cerita tentang pilihan, ini pernah disampaikan pada sebuah sesi pengajian kitab Al Hikam karya Ibnu Athoilah yang dibawakan oleh Kyai Imron Jamil. Pertanyaannya seperti ini : Apa yang akan anda lakukan ketika dalam perjalanan ke masjid untuk shalat Jum’at kemudian bertemu dengan seorang tua yang membutuhkan pertolongan karena sakit. Apakah anda memutuskan untuk shalat Jum’at dulu atau menolong orang tua tersebut ?
Aku berikan analogi untuk menjawab,

Sebelum jadi rasul dan dakwah tentang tauhid dan iman Muhammad SAW mencontohkan dulu dengan segala kebaikan yang beliau miliki, adabnya, amanahnya, dalam hal ini sisi2 kemanusiaannya dulu yang ditonjolkan. Berinteraksi dan bersosialisasi dulu dengan masyarakat, dari berbagai bani, suku, bangsa dan keyakinan. Bahwasanya Muhammad itu memiliki akhlakul karimah, betul dan itu sudah tidak terbantahkan oleh siapapun yang mengenal beliau. Saat itu beliau blm bertemu Jibril, belum shalat, belum puasa, dll, Muhammad masih hanya seorang pedagang yang jujur.

Baru kemudian setelah kebaikannya dapat diterima oleh semua masyarakat diberilah beliau risalah untuk penegakkan aqidah. So, jadilah manusia yang baik dulu, baru kemudian berdakwah. Fenomena yang terjadi sekarang justru terbalik, dakwah dijadikan sarana supaya terlihat sebagai manusia baik.

Makanya jangan heran kalau banyak pendakwah tersandung masalah pidana. Apa susahnya menghafalkan ayat2 untuk dijual supaya terlihat alim ? Anakku kelas 5 SD dalam hitungan bulan sudah hafal 4 juz. Yang sulit itu bagaimana mengaplikasikan ayat itu untuk diri kita sendiri dulu, bukan untuk menjustifikasi orang lain.

Keluhuran nilai agama akan lebih mudah diterima secara substantif kalau sebelumnya kita sudah menjadi manusia yang baik, akhlakul karimah. Baik itu dinilai dan bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh golongan/bani nya saja. Ini sekaligus bisa jadi referensi untuk menjawab pertanyaan Ibnu Athoilah diatas tadi.

Jadi yang perlu diedukasi adalah unsur kemanusiaannya terlebih dahulu. Ada sebuah “qoute” yang menarik, “ketika orang menolong kita, dia tidak akan terlebih dahulu menanyakan apa agama kita”

Ketika oleh Tuhan sudah dibekali nurani, yang senantiasa berkata jujur, kenapa tidak kita manfaatkan itu ? Kenapa setiap akan berbuat sesuatu tidak bertanya dulu apakah yang akan kita lakukan itu sebuah kebenaran atau kesalahan, pasti di jawab !! Hanya saja sebagian dari kita selalu berusaha mengingkari. Kalimat “iya sih,…tapi kan…” padahal itu indikator awal untuk melegalkan setiap kesalahan.

Toleransi adalah persoalan bagaimana kita mensikapi perbedaan. Ini semata2 urusan kemanusiaan yang notabene memang sudah ditakdirkan sebagai sesuatu yang harus kita hadapi sejak lahir. Memang kita bisa memilih dari siapa dan dari suku atau bangsa apa kita minta dilahirkan ? Toleransi harus dirasakan bukan hanya diucapkan, bayangkanlah kita jadi minoritas ditengah kaum mayoritas, akan ada perasaan inferior bahkan mungkin insecure bila kaum mayoritas selalu menafikkan keberadaan kita, itu pasti.

Maka dari itu jika kita bagian dari mayoritas cobalah bisa memahami apa yang dirasakan oleh minoritas, tugas kita lah untuk menjaga jangan sampai timbul perasaan inferior apalagi sampai insecure. Minoritas tidak selalu salah, demikian sebaliknya mayoritas, tidak selamanya mereka menjadi benar karena kemayoritasannya. Menjadi minoritas aku yakin juga bukan menjadi pilihan mereka, sekali lagi ini bukan masalah memilih, tapi memang sudah menjadi keputusan Tuhan jauh sebelum kita diciptakan.

Tuhan sudah menciptakan alam serta berbagai macam isinya dan mestinya semua yang jadi ketentuanNya harus kita terima dengan lapang dada, termasuk sikap kita saat menjadi berbeda. Semoga kita bisa menjadi mahlukNya yang selalu mengedapankan akal dan nurani di setiap tindakan kita dan setiap menghadapi perbedaan di sekeliling kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here