Akhir-akhir ini, pemberitaan yang beredar di media masa hampir selalu tentang kekerasan terhadap perempuan. Dimulai dari kasus kekerasan yang dialami oleh Yuyun sampai dengan kejadian sadis  yang di alami oleh Eno. Hal ini sangat membuat hati siapapun menjadi menangis.

Semua kejadian diatas menambah daftar panjang kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di negeri ini. Catatan Tahunan Komnas Perempuan memperlihatkan kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2001 ada 3.169. Tahun 2012: 216.156 dan tahun 2013: 279.688. Kekerasan tersebut mencakup fisik, psikis, ekonomi dan seksual.

Dalam konteks kekerasan seksual, selama 12 tahun (2001-2012), sedikitnya ada 35 perempuan korban kekerasan seksual setiap hari. Tahun 2012 tercatat 4.336 kasus kekerasan seksual, 2.920 di antaranya terjadi di ruang publik/komunitas. Mayoritas kekerasan seksual muncul dalam bentuk perkosaan dan pencabulan.

Korban meliputi semua umur, dari balita hingga manula, rata-rata usia antara 13- 18 tahun. Ini hanyalah data yang dilaporkan ke lembaga negara dan sosial. Yang tak tercatat akan selalu lebih besar dari yang dilaporkan.

Komnas Perempuan menemukan sejumlah bentuk kekerasan seksual. Beberapa diantaranya adalah perkosaan, ancaman perkosaan, pelecehan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan aborsi, marital rape, prostitusi paksa, kontrol atas tubuh antara lain melalui kebijakan publik atas nama moralitas dan agama, dan lain-lain. Pelakunya dapat siapa saja, orang paling dekat maupun paling jauh, orang biasa tanpa kelas sosial, maupun orang berstatus sosial “terhormat”.

Semua fakta diatas sangat memprihatinkan. Perempuan yang seharusnya menjadi sosok yang dicintai dan dihormati, tetapi pada kenyataanya (saat ini) menjadi objek bagi berbagai macam bentuk kejahatan moral.

Agama sebenarnya telah mengajarkan untuk membangun sebuah interaksi yang baik secara vertikal dan juga horizontal. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi saw. ketika berbicara soal agama, beliau mengatakan, “ad-Din al-Mu’amalah / Agama adalah interaksi”. Interaksi yang dimaksud disini adalah hubungan timbal balik yang baik antara manusia, dengan Tuhan, dengan sesama manusia (laki-laki, perempuan, tua ataupun muda), dengan lingkungan dan dengan diri sendiri.

Menurut KH. Husein Muhammad (dalam makalah yang disampaikan pada acara Seminar Nasional dengan tema: Kekerasan Seksual Dalam Konsep Pluralitas di Negara Indonesia) penyebab dari kekerasan ini berawal dari sikap kekuasaan laki-laki terhadap perempuan.

Kekerasan terhadap perempuan berakar lebih pada adanya ketimpangan relasi kuasa yang berbasis gender. Ia adalah sistem sosial-budaya patriarkhi; sebuah sistem/ideologi yang melegitimasi laki-laki sebagai pemegang otoritas dan superioritas, menguasai, kuat, pintar dan sebagainya.

Dunia dibangun dengan cara berpikir, dalam dunia dan untuk kepentingan laki-laki. Keyakinan bahwa perempuan secara kodrat adalah makhluk yang lembut dan lemah, posisinya di bawah laki-laki, inferior, melayani hasrat seksual laki-laki dan sebagainya telah menempatkan perempuan seakan-akan sah untuk ditaklukkan dan diperlakukan secara se-enak laki-laki, termasuk dengan cara-cara kekerasan.

Ideologi yang bias gender dan patriarkis ini mempengaruhi cara berfikir masyarakat, mempengaruhi penafsiran atas teks-teks agama dan kebijakan-kebijakan negara.

Pengaruh ini melampaui ruang-ruang dan waktu-waktu kehidupan manusia, baik dalam domain privat (domestik) maupun publik. Ketimpangan yang didasarkan atas sistem sosial/ideologi inilah yang berpotensi menciptakan ketidakadilan, subordinasi dan dominasi atas perempuan. Dan semuanya ini merupakan sumber utama tindak kekerasan terhadap perempuan.

Cara pandang masyarakat yang seperti itu adalah sisa dari bias pandangan lama yang masih banyak diyakini oleh golongan masyarakat secara luas. Padahal ketika kita merujuk kepada al-Quran terkait tentang derajat seorang laki-laki dan perempuan maka kesan yang akan didapatkan adalah sebuah kesetaraan.

Di depan Allah, kedudukan seorang perempuan setara dengan posisi seorang laki-laki. Kedua jenis manusia ini dapat langsung berhubungan dengan Allah tanpa perantara. Jika keduanya berbuat baik (‘amal shalih), Allah tidak akan membedakan nilai penghargaan yang diperuntukan bagi mereka.

Pernyataan seperti tersebut sejalan dengan firman Allah di dalam surat Al-Nahl (16): 97 yang menjelaskan tentang penghargaan yang adil itu, seperti kutipan maknanya berikut ini: Barang siapa beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan yang beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya penghidupan yang baik, dan akan Kami anugerahkan kepada mereka ganjaran yang lebih baik dibandingkan dengan apa yang telah mereka lakukan.

Dengan dasar ayat diatas, seorang perempuan beriman dan beramal shaleh tidak ada bedanya di depan Allah dengan laki-laki yang beramal shaleh. Keduanya akan diberi penghargaan yang sama, tidak ada diskriminasi.

Oleh sebab itu, perlakuan diskriminatif (kekerasan) yang ditimpakan kepada perempuan dalam kurun waktu yang panjang sama saja dengan melawan perintah al-Quran. Inilah kultus patriarki yang harus dikubur sekali dan untuk selamanya, demikian pendapat Prof Syafii Ma’arif di dalam bukunya, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah.

Yang perlu kembali ditekankan adalah ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan. Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktikan oleh sementara masyarakat.

Muhammad al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, pernah menulis tentang keistimewaan perempuan dimasa lalu: “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahu, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”

Almarhum Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis: “Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada laki-laki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum Syari’at pun meletakan keduannya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan.”

Memperhatikan kedua pendapat ulama diatas sungguh sangat bijaksana, sekaligus membuktikan bahwa Islam adalah agama yang ramah terhadap perempuan. Tetapi ironisnya pandangan seperti itu seakan-akan menghilang di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu faktor penyebabnya adalah kedangkalan pengetahuan keagamaan, sehingga tidak jarang agama (Islam) diatasnamakan untuk pandangan dan tujuan yang tidak dapat dibenarkan.

Jika kita bersedia untuk membaca sejarah masa lampau, di zaman Nabi saw. dan di zaman para ulama dahulu, terdapat sederet nama-nama perempuan yang memiliki kemampuan yang sangat istimewa, sampai-sampai dijadikan rujukan sekian banyak tokoh lelaki.

Diantara nama-nama tersebut adalah, Aisyah r.a., istri Nabi saw. Aisyah adalah seorang yang sangat dalam pengetahuannya serta dikenal pula sebagai kritikus. Sampai-sampai dikenal secara luas ungkapan yang dinisbatkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi saw.: “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari Al-Humaira’ (Aisyah).”

Kemudian ada Sayyidah Sakinah putri Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kemudian Al-Syaikhah Syuhrah yang digelari Fakhr Al-Nisa’ (kebanggan perempuan) adalah salah seorang guru Imam Syafi’i. Ada lagi Al-Khansa’, Rabi’ah Al-Adawiyah yang mempunyai kedudukan ilmiah yang sangat terhormat itu.

Agama Islam, selain menegaskan tentang keistimewaan kedudukan seorang perempuan juga menegaskan tentang penolakan terhadap kekerasan. Visi ini dibangun di atas prinsip-prinsip kemanusiaan, terutama: Penghormatan atas Martabat Manusia, Kesetaraan, Kebebasaan dan Keadilan.

Sumber-sumber otoritatif Islam sangat banyak menegaskan prinsip-prinsip tersebut. Antara lain:

• Manusia adalah makhluk terhormat: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra, [17]:70)

• Laki-laki dan Perempuan adalah Setara: (Q.S. Q.S. al-Nisa, [4:1), Q.S. al-Ahzab, 53:35, al-Taubah, 71, al-Nahl, 97, Ali Imran,[3]: 195 dan al-Mukmin, 40.

• Manusia yang paling terhormat/unggul adalah yang paling bertaqwa: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurat, [49]:12).

• “Hai orang-orang yang beriman, janganlah komunitas laki-laki merendahkan komunitas yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan. Dan jangan pula komunitas perempuan merendahkan komunitas perempuan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan panggilan yang mengandung pelecehan. Sikap dan tindakan merendahkan dan melecehkan itu adalah perilaku yang buruk dari seorang yang telah beriman. Barangsiapa yang tidak kembali memperbaiki diri maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.(Q.S. al-Hujurat [49]:11).

• “Tuhan tidak memandang tubuh dan wajahmu, tetapi memandang pada hati dan perbuatanmu”. (Hadits).

• “Wahai manusia. Sesungguhnya darah (hidup) kamu, kehormatanmu dan harta-milikmu adalah suci dan mulia”. (Hadits Nabi).

• “Setiap muslim diharamkan mengganggu/mencederai/melukai hak hidup, kehormatan diri dan hak milik muslim yang lain”. (Hadits).

• “Sesungguhnya Allah bersifat lemah lembut, dan menyenangi kelemahlembutan dalam segala persoalan”. (HR. Bukhari dan Muslim, melalui Aisyah).

Dari semua penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan yang sangat jelas bahwa Islam sangat mengecam kekerasan. Apalagi kekerasan yang terjadi terhadap anak dan perempuan yang sedang marak terjadi, khusunya di Indonesia.

Indonesia yang mempunyai status sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak diharapkan dapat merenungi serta mengambil pelajaran dari ajaran agama Islam terkait dengan etika memperlakukan seorang perempuan. Karena, sungguh tidak berbudi siapa yang tidak mencintai atau menghormatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here